Ads Top

Kutemukan Cinta Sejati di Bojonegoro

Hai pembaca setia blog didikjatmiko.com apa kabar nih? Tentu baik-baik saja kan. Semoga kita senantiasa selalu sehat dan bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Amiin. Oh ya dalam postingan kali ini, Saya akan berbagi cerita tentang kisah nyata yang dialami oleh Bayu Yoggi Rosbianto (pegawai di Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Bojonegoro) yang sering mengajakku liputan. Bagaimana kisahnya? Semoga kita dapat mengambil nilai positif dalam kisah nyata yang dialami oleh mas Bayu. Inilah kisahnya...

Kutemukan Cinta Sejati di Bojonegoro

Kutemukan Cinta Sejati di Bojonegoro
Dulu setelah lulus SMA pengen banget kuliah di kampus negeri, soalnya dari bangku SMP sampai dengan SMA, Saya sekolah di swasta terus, sekali-kali pengen lah meringankan beban orang tua yang terlalu berat membiayayi pendidikan di perguruan tinggi swasta. Udah gitu dulu mikirnya kalo lulusan Universitas Negeri pasti gampang banget buat nyari kerjanya. Sejak sekolah, dulu emang paling suka dengan dunia publisistik, jurnalistik, brodcasting, ataupun penyiaran dan sebagainya. Pengen banget bisa menghibur orang lain dan buat orang lain bahagia dengan hal itu.

Impian kuliah dikampus negeri pun sirna, dengan terpaksa Saya putuskan untuk kuliah di luar negeri saja (swasta). Biarin deh, mau gimana lagi, yang penting jurusannya tetep yang ada hubungannya dengan publisistik. Saya pun memilih satu jurusan kehumasan dengan program studi komunikasi bisnis. Nggak nyambung kan dengan cita-citanya? Tapi jangan salah, jurusan ini  mata kuliahnya mencakup keseluruhan dunia publisistik. Direncanakan saya ambil yang 3 tahun aja, biar nggak kelamaan dan nggak bikin bosan belajar, nggak taunya diploma 3 aja ditempuh dalam waktu enam tahun.


Ijazah diploma yang ditempuh selama enam tahun itu pun akhirnya jatuh juga di tangan ini, lumayan buat modal keliling sebar lamaran kerja. Mulai deh, saya masukin lamaran ke semua perusahaan televisi, radio, majalah yang ada di Jakarta. Tapi....ternyata benar juga apa yang dikatakan om Iwan Fals lewat lagu sarjana muda kalo nyari kerja itu ternyata susah.

Setelah beberapa tahun menganggur niat untuk mencari kerja yang sesuai dengan ijasah harus dibuang jauh-jauh tapi nggak dapat kerjaan juga. Akhirnya Saya memilih kembali belajar dari jalananan aja, biar tambah pergaulan sekaligus tambah pengalaman. Tapi tetap aja masih nganggur dalam waktu yang cukup lama.

Semakin ke sini masalah ekonomi semakin menghimpit dan menyempit, lumayan sempat bikin goyah karena sudah harus menjadi tulang punggung keluarga, sementara jalan hidup masih begini-begini aja. Bukannya  Berjuang membantu Menghidupi keluarga, tapi malah bikin susah. Kemudian datang lah tawaran kerja ngurusi restoran masakan padang milik saudara. Akhirnya ini jadi pilihan terakhir, dan semoga pelan-pelan keadaan bisa membaik. dipasrahkan kepada sang kholiq aja deh, biar DIA yang ngatur semuanya. 

Di tempat ini, penghasilan dua juta rupiah sebulan langsung diberikan pemilik restoran kepada Ibunda untuk keperluan berobat dan teraphy karena stroke separuh badannya lumpuh yang telah dirasakan selama kurang lebih dari sepuluh tahun. Saya cuma terima makan sehari 3 x pake menu masakan padang yang dijual.

Dasar emang nggak tahu diri kali ya, udah hidup susah terus belaga gila pengen nyari istri dengan alasan bisa gantian buat merawat orang tua dan bisa lebih fokus cari kerja yang lebih baik. Tapi buat nyenengin diri sendiri aja susah apalagi nyenengin pacar.

Akhirnya pakai aliran pacaran jarak jauh, biar awet. Pacarannya cuma modal pulsa. Saya di Jakarta, dia asli Bojonegoro yang pada waktu itu sedang kuliah di Kota Malang. Ya udah lah, mau gimana lagi, kita bangun cinta lewat perasaan dan jalur telekomunikasi aja deh. Kalo emang ternyata berjodoh ya mungkin ini adalah subuah rejeki yang yang harus di syukuri.

Yang lebih gila dan nggak masuk akal lagi, tahun 2010 coba-coba cari kerja tersulit di Indonesia yaitu jadi PNS. Kalo kata orang-orang "punya duit berapa untuk nyogok". Apa salahnya dicoba, meski nggak punya modal untuk nyogok pokoknya pada saat itu cuma bisa pasrah dan ikhlas saja.


Berhubung punya pacar orang Bojonegoro langsung browsing lowongan penerimaan CPNS daerah, entah dibilang kebetulan atau emang rejeki ternyata Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sedang membuka lowongan itu. Gue siapkan semua persyaratan yang diminta, dengan modal 12 ribu rupiah dan BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM semoga rejeki gua emang ada di Bojonegoro. Dan ternyata Tuhan memang yang menentukan segala macam rencana dan niat manusia. Atas dasar cinta yang patut untuk selalu disyukuri, tahun 2011 akhirnya bisa keterima di Bojonegoro dan sekarang sudah hidup bersama seorang istri dan anak di Bojonegoro serta bekerja sesuai dengan ijasah menjadi pelayan masyarakat di Bagian Humas dan Protokol kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan modal 12 ribu rupiah.

Semoga cerita ini bisa menginspirasi untuk orang-orang yang bernasib yang sama, bahwa hidup di dunia ini semuanya serba mungkin, yang nggak mungkin itu cuma makan kepalamu sendiri. Terima kasih untuk Pemimpin daerah Kabupaten Bojonegoro dengan menjalankan Pemerintahan yang terbuka baik dan jujur sudah nggak bikin orang susah tambah susah. (@kakdidik13)

1 comment:

  1. tak kirain kutemukan walang goreng di Bojonegoro Kak Didik :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.