Ads Top

Selamatkan dan Lestarikan Hutan Indonesia Bersama High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0

Selamatkan dan Lestarikan Hutan Indonesia Bersama High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0 - Kondisi hitan di Indonesia saat ini dalam keadaan kritis dan dalam ancaman. Penebangan hutan terus menerus terjadi dan berlangsung dalam skala besar, baik untuk kepentingan industri maupun untuk kepentingan sebagian orang saja. Hutan berfungsi sebagai penyeimbang iklim dan rumah bagi berbagai keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya. Salah satunya yaitu Harimau Sumatera. Harimau Sumatera merupakan salah satu kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Keberadaannya saat ini pun berada di ambang kepunahan. Semula hutan yang digunakan sebagai tempat tinggal mereka, kini mulai dialih fungsikan untuk perkebunan sawit, pertambangan dan sebagainya.

Ayo Menanam Pohon ! Sumber Foto : Twitter HCS Approach
Melihat kondisi tersebut, perlu adanya sebuah terobosan baru dan metode untuk menjada keharmonisan ekosistem hutan agar tetap lestari. Salah satunya dengan metode High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit yang diluncurkan beberapa waktu lalu yakni pada tanggal 3 Mei 2017 di Bali oleh High Carbon Stock (HCS) Approach Steering Group. HCS Steering Group merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, untuk menghentikan praktik pengundulan (deforestasi) hutan. HCS Steering Group dibentuk pada tahun 2014 dengan tujuan untuk dapat mengawasi pengembangan selanjutnya dari beberapa metodologi, termasuk penyempurnaan terhadap definisi, objektif dan hubungan dengan pendekatan-pendekatan lainnya sebagai upaya dalam menghentikan praktik penggundulan hutan.

Apa itu High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0.Toolkit?

High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0.Toolkit merupakan sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group
Saat peluncuran HCS Approach Toolkit Versi 2.0.Toolkit, Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group dalam sambutannya menyampaikan bahwa membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis.

Ia menambahkan, selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek 'Non-Deforestasi'. Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon,yang mencakup teknologi baru termasuk penggunaan LiDAR, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil. Koalisi yang unik ini telah bersatu, dalam menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan dampak pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa dan hak-hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Kami menyambut positif atas diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung-jawab.

Sebelumnya pada bulan April 2015 telah dirilis HCS Approach Toolkit versi pertama. Versi baru yang telah disempurnakan yang dirilis pada 3 Mei 2017 telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach. 

Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya, sebagai hasil dari 'Kesepakatan Konvergensi' antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016 lalu. Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS.

Bagi Anda yang ingin menggunakan metode HCS Approach Toolkit Versi 2.0 bisa diunduh di sini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai HCS Approach Toolkit Versi 2.0, intip kontaknya di bawah ini :

HCS Approach Steering Group
Twitter : @Highcarbonstock

Lantas, apakah kita bisa turut andil dalam melestarikan hutan? Tentu jawabannya adalah bisa dan hukumnya wajib. Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam menjaga kelestarian hutan, di antaranya sebagai berikut :

1. Dukung penggunaan HCS Approach Toolkit Versi 2.0 dan kenalkan kepada orang di sekitar kita.
2. Membuang sampah pada tempatnya
3. Kurangi penggunaan tisu usai makan
4. Menanam pohon di sekitar rumah dan kampanyekan aksi penanaman pohon kepada anak sejak dini
5. Ikut dan gabung di Pramuka khususnya Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru
6. dan sebagainya

Mari bersama menjaga hutan agar tetap lestari dan selamatkan hutan Indonesia bersama High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0. (@kakdidik13)

1 comment:

  1. Nah iya betul, sebenarnya bukan hanya pihak terkait saja yang harus ikut melestarikan hutan.Kita pun juga sebaiknya bisa ikut melestarikan dengan hal hel kecil. Tidak buang sampah sembarangan dan menanam pohon pun bisa jadi solusi yang tepat lho. Semoga HCSA ini bisa didukung oleh banyak pihak ya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.