Didik Jatmiko: Seputar TBM
Info Menarik
Loading...
Showing posts with label Seputar TBM. Show all posts
Showing posts with label Seputar TBM. Show all posts

Monday, June 15, 2015

Paket Buku untuk TBM Sinom dari Febi Prasetyo

Serah Terima Paket Buku untuk TBM Sinom
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sinom yang ku rintis mendapatkan bantuan buku dari Febi Prasetyo, Sabtu 13 Juni 2015. Buku tersebut diberikan kepadaku oleh Selamet di BLC Telkom Bojonegoro setelah kegiatan Pelatihan Guru Bojonegoro Ngeblog - Pekan IT Bojonegoro 2015. Bantuan buku tersebut merupakan pemberian dari sahabatnya Selamet yaitu Febi Prasetyo.

Paket Buku untuk TBM Sinom dari Febi Prasetyo
Ceritanya seperti ini, pada saat itu Febi Prasetyo sedang bersih - bersih rumah dan koleksi bukunya. Melalui grup WhatsApp  Pembina Gudep 610-611 Pangkalam Kampus ITS Surabaya, Febi Prasetyo bercerita tentang buku koleksinya yang ia bersihkan. Pada saat itu, Selamet sahabatku menawarkan diri agar buku koleksi tersebut diberikan kepada TBM di Bojonegoro. Febi Prasetyo pun mengiyakan dan akhirnya koleksi bukunya dititipkan kepada Selamet.

Paket Buku untuk TBM Sinom dari Febi Prasetyo (2)
Untuk diketahui, Febi Prasetyo adalah alumni D3 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya - ITS dan saat ini sedang menempuh S1 Teknik Elektro ITATS Surabaya. Selain itu, dia merupakan Project Manager PT. GAJ.

Adapun buku - buku yang diberikan kepada TBM Sinom sebagai berikut :
  1. Surat Kecil Untuk Tuhan
  2. Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik
  3. Saved by the Angels
  4. Istikharah Cinta
  5. Life Chager Menjadi Pengubah Hidup - Mario Teguh
  6. New Edition - Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual
  7. Cinta-Mu Seluas Samudra - Gola Gong
  8. Kik Andry
  9. Photo To Cartoon
  10. Corel Draw 12 for Designer
  11. Teknik Modern Fotografi Digital
  12. Desain Situs Keren dengan Photoshop Dreamweaver
  13. Buku Latihan Membuat Objek 3D dengan Photoshop
  14. 27 Manipulasi Foto profesional Photoshop CS3
  15. Step by step Joomla ! Programming
  16. Tanya Jawab Seputar Joomla
  17. Java untuk Orang Awam
  18. PHP & MySQL untuk WEB
  19. Menghias WordPresss itu Gampang
  20. Jurus - Jurus Jitu Lulus Kerja di Bank
  21. Cara Mudah Belajar Bahasa Perancis
  22. Aneka Hobi Elektronika 1
  23. dan sebagainya.
Paket Buku untuk TBM Sinom dari Febi Prasetyo (3)
Semoga buku yang diberikan kepada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sinom yang beralamat di Desa Sedahkidul RT.04/RW.01 Kecamatan Purwosari Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur ini bermanfaat dan menambah minat serta semangat membaca pemuda desa. Bagi yang ingin berbagi dan mendonasikan buku bisa menghubungi 085733336921. (@kakdidik13)

Thursday, May 23, 2013

John Wood, Tinggalkan Karier di Microsoft Demi Membangun 7.000 Perpustakaan di Pelosok Dunia

Minggu, 19 Mei 2013 adalah hari yang sangat bersejarah. Pasalnya, pada tanggal ini TBM SINOM rintisanku menerima buku yang sangat bagus dan wajib dibaca oleh pecinta literasi. Buku yang berjudul "Room to Read : Tinggalkan Karier di Microsoft Demi Membangun 7.000 Perpustakaan di Pelosok Dunia" ini diberikan oleh Om Pra, beliau adalah seorang penggerak literasi di Bojonegoro yang sudah sangat lama sekali. Prawoto R Sujadi, itulah nama lengkapnya. Selain menjadi penggerak literasi di Kota Ledre, beliau juga seorang pengajar di SMP N 2 Gondang dan di SMAN 2 Bojonegoro.

Buku John Wood - Mantan Eksekutif di Microsoft
Sebelum anda membaca buku tersebut, bacalah paparan berikut ini :
  1. Judul Buku : Room to Read: Tinggalkan Karier di Microsoft Demi Membangun 7.000 Perpustakaan di Pelosok Dunia
  2. Penulis : John Wood
  3. Penerjemah : Widi Nugroho
  4. Penerbit : Bentang PustakaAnggota IKAPI, Yogyakarta
  5. Edisi Lama Cetak  Pertama : Agustus 2007
  6. Edisi Baru Cetakan Pertama : April 2009
  7. Tebal : x + 386 halaman
Ada semacam kepercayaan umum para penderma dewasa ini, bahwa memberikan “kail” adalah tindakan lebih tepat lagi bijak ketimbang memberikan “ikan”. “Ikan” hanya akan mengenyangkan penerimanya dalam satu waktu, mungkin sehari, dua hari, atau satu bulan. Dan itu artinya akan menciptakan ketergantungan. Berbeda jika yang diulurkan adalah “kail”, yakni alat atau perangkat yang berfungsi untuk menangkap “ikan-ikan”, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penerimanya dalam jangka panjang.

Analogi ini mungkin tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh John Wood, eksekutif di salah satu perusahaan nomor wahid dunia, Microsoft. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam edisi Indonesia dengan judul Leaving Microsoft to Change the World oleh Bentang Pustaka pada Agustus 2007. Terbitan edisi baru, April 2009, oleh penerbit yang sama diganti judulnya menjadi Room to Read, merujuk pada nama organisasi nirlaba yang dibangun John untuk mendirikan sekitar 7.000 perpustakaan. Judul ini lebih mewakili semangat John, yakni membuka cakrawala pengetahuan anak-anak usia sekolah di dunia ketiga. Judul tersebut juga ditegaskan melalui gambar sampul yang tepat, di mana John dikerubuti anak-anak yang berebut menggapai buku.

John Wood memutuskan hengkang dari Microsoft untuk memulai babak baru dalam hidupnya demi mengobati luka lama dunia: minimnya keterbacaan atas pengetahuan. Ya, di tengah pesatnya globalisasi melalui media elektronik, ada kelompok-kelompok masyarakat yang ternyata belum tersentuh peradaban Guttenberg. Ada sekitar 850 juta penduduk bumi yang belum melek literasi, alias buta baca-tulis sederhana, dan sekitar dua pertiga di antaranya adalah kaum perempuan. Bagi seorang berkebangsaan Amerika, berpendidikan tinggi, dan mencapai jenjang karier sebagai eksekutif pemasaran Microsoft di Sydney dan Cina, angka-angka itu sungguh membuatnya pusing (hlm.33).

Tetapi, kepusingan atas ketersediaan sekolah dan perpustakaan yang tak memadai tidak muncul begitu saja. John semula menemukan realitas menyedihkan itu di Nepal, dalam pelancongannya selama 21 hari menuju Pegunungan Himalaya. Ketika di Nepal itu, secara tak sengaja ia bertemu pengurus pendidikan bernama Pasupathi. Orang ini begitu gigih, berjalan kaki bermil-mil jauhnya setiap hari untuk mengunjungi sekolah-sekolah, memantaunya, dan memberikan bantuan sekedarnya. John tertarik untuk mengunjungi salah satu sekolah di Desa Bahundanda. Bersama Pasupathi, ia melihat bagaimana kondisi bangunan yang disebut “sekolah” itu. Kondisinya tak lebih baik sebagaimana penggambaran Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi.

John pun menyaksikan salah satu ruangan dengan papan bertulis “Perpustakaan” di depannya. Papan itu nyatanya hanya sebuah petunjuk “sesat”, sebab di dalamnya tak ada meja, kursi, atau rak-rak berisi penuh buku-buku. Hanya ruang kosong dengan dinding dilapisi peta dunia. Di akhir perjumpaannya dengan kepala sekolah dan guru-guru, ia berjanji: tahun depan ia akan kembali dengan membawa buku-buku. Entah seratus, seribu, atau puluhan ribu untuk memenuhi kebutuhan siswa-siswa yang malang itu. Dan John tak hanya kembali dengan buku-buku, melainkan keputusan penuh untuk memberdayakan sektor pendidikan di Nepal (kelak proyeknya berkembang menjangkau Vietnam, Kamboja, India, Sri Lanka dan negara berkembang lainnya).

Dalam perjalanan pulang ke Sydney, ia sempatkan mampir di warung internet untuk menuliskan email kepada kerabat dan relasinya, meminta bantuan mereka untuk menyumbangkan buku. Tanpa dinyana, gayung surat elektronik itu bersambut. Relasi-relasinya bukan hanya menyumbang buku dan uang, tetapi juga menyebarkan email permintaan bantuan itu kepada relasi-relasi mereka. Dalam tempo sebulanan, ribuan buku terkumpul, sehingga pengiriman buku pertama pun dapat dilakukan.

Tak lama berselang setelah pengiriman buku-buku tersebut, John dipindahkan ke Beijing, Cina. Posisinya sebagai salah satu eksekutif senior ternyata tak mampu membuatnya nyaman. Pesan moral Dalai Lama dalam The Art of Happiness, bahwa manusia cenderung mencari kebahagiaan dan akan memperolehnya jika membagi apa yang dimilikinya, begitu membayanginya. Dalai Lama mengajarkan moral sebagaimana dipahami olah umat Islam, bahwa manusia harus mensyukuri karunia Tuhan dengan membantu kaum miskin untuk keluar dari siklus kemiskinan. Salah satu caranya melalui pendidikan (hlm.18).

Keputusan John untuk keluar dari Microsoft dan menjadi pekerja sosial tidak dilalui dengan jalan mulus. Atasannya protes atas keputusan “sepihak” itu, dan terlebih kekasihnya (perempuan cantik dengan lompatan karier yang menawan pula) harus ia tinggalkan. John memang sempat kehilangan arah, sebelum akhirnya memberikan makna mendalam atas keputusannya itu: apa yang selama ini ia raih tak ada artinya dibanding jutaan anak usia sekolah yang tak mampu mengecap pendidikan layak.

John seperti membenarkan kritik Pierre Bourdieu, bahwa kesenjangan global bermula dari habitus, modal, dan ranah yang berbeda-beda. John merangkumnya dalam kata-kata: “Berapa juta anak tak akan mempunyai kesempatan yang saya miliki dalam hidup, hanya karena mereka ditolak oleh pendidikan pada usia muda? Seakan-akan di sana ada ‘lotere kehidupan’. Pada usia muda, anak-anak secara sewenang-wenang dianggap pemenang atau pecundang, berdasarkan tempat lahir mereka. Anda lahir di Scarsdale, Anda menang. Anda lahir di Bogota, Anda kalah” (hlm.49).

Catatan itu begitu menarik dan menusuk jantung realitas kita hari ini. Seseorang yang lahir di Jakarta atau di Jawa (dan tentu saja dari keluarga berkecukupan), dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas, dan karena itu masa depannya bisa lebih cerah dan pasti. Sementara mereka yang lahir di luar Jawa, atau mereka yang berasal dari keluarga miskin di mana pun di pelosok negeri ini, harus puas dengan sekolah-sekolah ala Laskar Pelangi, atau bahkan tidak bersekolah sama sekali. Bagaimana mereka dapat turut dalam roda pembangunan, jika “membaca saja, sulit”?

Saturday, May 18, 2013

Pentingnya Budaya Membaca dan Pendidikan di Desa

Hampir keseluruhan, negara yang maju dan ingin maju, kegiatan membaca merupakan suatu kebutuhan, sama halnya seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Membaca adalah satu aktivitas penting bagi terciptanya generasi - generasi yang memiliki wawasan luas dalam segala hal dan sudah barang tentu peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Ada pepatah yang mengatakan, dengan membaca kita bisa membedah isi dunia. Sebenarnya, dengan membaca seseorang telah melibatkan banyak aspek : meliputi berpikir (to think), merasakan (to feel), dan bertindak melaksanakan hal-hal yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang dianjurkan oleh bahan bacaan (to act).


Akan tetapi di Negeri Ibu Pertiwi ini, budaya membaca belum sepenuhnya menjadi laku keseharian, mengingat di satu sisi pendidikan kita belum mampu meletakkkan pondasi dasar bahwa membaca adalah kebutuhan paling vital sebelum jauh menginjak tingkat pendidikan ke arah yang lebih tinggi. Di lain sisi, pendidikan sampai saat ini pun belum menjamah 100 % sampai ke setiap wilayah pelosok negeri, terutama desa - desa terpencil yang tidak mendapat perhatian lebih, baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Bangunan dan gedung sekolah banyak yang roboh, atapnya rusak dan lantainya masih berdebu.

Masalah gemar membaca sudah menjadi masalah bangsa, karena rendahnya budaya membaca bagi bangsa kita sudah sangat memperihatinkan, belum lagi di era yang serba teknologi ini, budaya membaca semakin mengalami kemunduran dan kemrosotan. Pasalnya, serbuan media elektornik seperti televisi, radio, internet dan lain sebagainya telah membuat aktivitas membaca menjadi pekerjaan yang dikesampingkan. Tidak hanya generasi instan yang bakal lahir, melainkan manusia - manusia yang tidak mengawali satu pekerjaan dari nol dan bersungguh - sungguh, sehingga orisinalitas ide serta beragam inovasi dari bermacam kreativitas menjadi hal yang sangat sulit direalisasikan, apalagi dikembangkan.

Dengan demikian, fenomena sosial di atas adalah terjadinya lompatan budaya dalam masyarakat. Kita telah diserbu budaya media massa, padahal budaya baca belum tercipta dengan kuat dan menyeluruh menyentuh ke semua lapisan struktur masyarakat. Membaca adalah merupakan sebuah kebutuhan bagi seseorang yang mempunyai pola pikir maju dan hidup di suatu daerah yang notaben masyarakatnya berpendidikan. Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang jauh dari layanan public pemerintah, mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk bekerja di sawah atau hanya sekedar bercanda ria sambil menikmati secangkir kopi hangat di warung.

Terlepas dari hal tersebut, di sela aktifitas yang begitu padat, ketika aku berada di balai desa Purwosari ada ruangan kecil yang menarik perhatianku. Di dalamnya, terdapat beberapa koleksi buku yang tertata dengan rapi. Aku pun tertarik untuk menuju ruangan tersebut. Perpustakaan desa Purwosari itulah nama yang terpasang di ruangan kecil yang berada di sudut balai desa Purwosari. Adapun koleksi buku yang dimiliki sekitar 500 buku. Walaupun jumlah koleksi bukunya sedikit, tetapi keberadaan perpustakaan desa tersebut sangat berguna bagi pelajar, guru, pemuda dan warga desa Purwosari dan sekitarnya.

Perpustakaan desa ini adalah satu-satunya perpustakaan desa yang berada di kecamatan Purwosari. Dari 12 desa yang ada di kecamatan Purwosari yang baru memiliki perpustakaan adalah desa Purwosari. Padahal, keberadaan perpustakaan desa sangatlah memberikan dampak yang sangat positif terhadap warga yang berada di desa tersebut dan sekitarnya. Masyarakat atau pengunjung bisa mendapatkan berbagai informasi dari buku yang dibacanya, mulai dari informasi keagamaan, pendidikan, pertanian, peternakan, ekonomi, bisnis, teknologi, kesehatan dan sebagainya.

Walaupun, di desa se kecamatan Purwosari terdapat sekolah atau madrasah yang memiliki perpustakaan, tetapi keberadaannya masih bersifat khusus untuk siswa dan warga sekolah sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan membaca masyarakat di kecamatan Purwosari. Suatu hari ketika berkunjung di perpustakaan desa Purwosari, aku mencoba mencari Informasi tentang perpustakaan desa tersebut. Adapun informasi yang aku dapatkan adalah sebagai berikut :
  1. Terbatasnya jumlah pengelola perpustakaan desa Purwosari
  2. Jumlah koleksi buku yang ada sekitar 500 buku
  3. Jadwal layanan yang belum maksimal
  4. Peminat atau pengunjung terdiri pelajar, guru, ibu - ibu dan pemuda baik dari desa Purwosari maupun sekitarnya.
Melihat kondisi perpustakaan desa Purwosari tersebut ingin rasanya menjadi relawan untuk membantu meningkatkan layanan baca di perpustakaan desa tersebut. Agar perpustakaan itu nantinya menjadi berkembang dan diminati oleh masyarakat. Tak terasa sudah hampir satu jam aku berbincang dengan pengelola perpustakaan desa tersebut. Sebelumberpamitan, aku pun meminjam buku dari perpustakaan desa ini sebanyak 5 buah. Aneh tapi nyata, itulah kalimat yang pantas diucapkan. Karena memang perpustakaan desa ini tidak membatasi jumlah buku yang dipinjam oleh pengunjung. Melihat semangat dan antusias membaca pengunjung, pengelola merasa tersentuh dan senang. Bahkan pengelola bangga kepada pengunjung yang masih semangat untuk melestarikan budaya membaca.

Selain Perpustakaan, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat atau TBM dan komunitas baca sangat berperan penting dalam mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli terhadap budaya membaca. Penduduk di kecamatan Purwosari rata-rata bermata pencaharian sebagai petani sehingga waktu mereka sehari-hari dihabiskan di sawah. Tak ada waktu luang yang tersisa karena sehabis dari sawah mereka pun masih disibukkan dengan mencari rumput untuk makan hewan peliharaannya. Ini adalah tantangan bagi generasi muda desa saat ini untuk memperjuangkan budaya membaca di tengah-tengah masyarakat yang kesehariannya disibukkan dengan aktifitas di sawah sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk sekedar menyempatkan diri membaca buku. Jika seorang petani meluangkan waktunya sehari 15 menit saja untuk membaca maka petani tersebut dapat memperoleh wawasan dan informasi dari buku yang dibacanya. Misalnya, seorang petani membaca buku tentang pertanian maka petani tersebut mendapatkan ilmu tentang bercocok tanam yang modern, mengerti berbagai hama penyakit tanaman dan sebagainya sehingga ilmu yang didapatkan secara tidak langsung bermanfaat bagi petani tersebut.

Selain tantangan diatas, kebanyakan masyarakat pedesaan masih ada yang belum bisa membaca atau buta huruf karena di masa mudanya mereka tidak mengeyam pendidikan secara maksimal dan tidak lulus dari jenjang sekolah dasar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat diantaranya dengan mencanangkan progam pembelajaran kejar paket A, B dan C. Di era globalisasi dan modernisasi ini ternyata budaya membaca sangatlah berharga. Karena dengan membaca kita menjadi tahu apa yang belum kita ketahui sebelumnya dan wawasan semakin bertambah.
Oleh karena itu, budaya membaca harus dibiasakan sejak dini sehingga dewasa nanti kita menjadi orang yang kaya akan ilmu dan pengalaman. Membaca bukanlah permasalahan yang berat jika kita sudah terbiasa melakukannya. Bahkan membaca bisa menjadi sahabat disaat kita kesepian, sahabat yang selalu memberikan inspirasi.

Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru dan semua waktu adalah kesempatan. Ayo kita lestarikan budaya membaca bersama - sama. Melalui membaca kita dapat menstranfer ilmu ke dalam otak kita. Melihat berbagai realita diatas, terbenak dalam sanubariku untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat sehingga keberadaan TBM itu nantinya dijadikan sebagai pusat pembelajaran budaya membaca oleh pelajar, guru, pemuda dan masyarakat di kecamatan Purwosari dan sekitarnya. Itulah angan-angan yang terbenak dalam hatiku.

Dengan lahirnya budaya membaca semoga memberikan dampak positif bagi warga di kecamatan Purwosari khusunya dan umumnya untuk seluruh generasi masa depan di Bojonegoro, bahwa betapa pentingnya budaya membaca dan pendidikan untuknya. Sebagai putra desa, hatiku terenyuh melihat kondisi masyarakat yang belum sadar dan peduli akan pentingnya budaya membaca dan pendidikan bagi putra-putrinya. Hal ini didasarkan pada kondisi masyarakat desa yang mesih enggan melanjutkan pendidikan putra-putrinya ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan terbenturnya masalah ekonomi dan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Ironis sekali melihat generasi muda yang telah lulus dari SD, SMP dan SMA banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka lebih mementingkan bekerja dan bahkan menikah dari pada melanjutkan sekolah. Apalagi dukungan dari orang tua juga sangat kurang terhadap minat anak untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Menghadapi permasalahan diatas, kampanye pendidikan dan budaya membaca harus setiap hari dilakukan. Terutama di daerah pedesaan yang jauh dari layanan public pemerintah. Perpustakaan desa, TBM, komunitas baca dan ormas lainnya harus meningkatkan layanan dengan konsisten dan pendampingan terhadap budaya membaca. Dukungan dari orang tua dan pemerintah pun juga sangat dibutuhkan untuk melestarikan budaya membaca di tengah-tengah masyarakat yang tinggal di pedesaan. Selain itu, kesadaran untuk membaca dari diri sendiri pun harus dibangun. Siapa yang peduli dengan budaya membaca kalau bukan diri kita sendiri. Karena kita adalah generasi masa depan yang peduli terhadap budaya membaca.

Jika, di 12 desa yang ada di kecamatan Purwosari memliki perpustakaan dan layanan yang maksimal maka budaya membaca dikalangan masyarakat desa pun dapat terealisasi dan terlaksana. Sehingga cita-cita untuk melestarikan budaya membaca di desa terwujud. Selain itu, layanan perpustakaan keliling di desa jarang sekali ada. Bahkan satu bulan sekali belum tentu ada. Karena minat baca orang di desa begitu rendah dan jarak tempuh menuju desa tersebut yang begitu jauh menjadi kendala untuk petugas perpustakaan keliling memberikan layanan. Oleh karena itu, perpustakaan keliling lebih fokus memberikan layanan baca terhadap orang di kota yang memiliki kesadaran baca yang tinggi.

Seharusnya tidak hanya orang kota saja yang mendapatkan layanan perpustakaan keliling. Orang desa pun seharusnya juga ikut dilayani sehingga layanan perpustakaan keliling dapat dirasakan secara merata dari kota hingga ke desa. Mari kita taburkan benih-benih generasi muda yang suka membaca baik di kota maupun di desa, agar menjadikan generasi negeri tercinta ini mempunyai kegemaran untuk membaca.

Ini adalah Esaiku yang ku ikutkan dalam Lomba Esai se Kabupaten Bojonegoro Tahun 2012. sayang belum menang dan alhamdulillah, esai tersebut memberiku spirit untuk merintis TBM Rintisan yaitu "TBM SINOM".

Tuesday, May 7, 2013

PENGUMUMAN KUIS-1 BUKU 'THINK GREEN, GO GREEN'

Bismillahirrahmanirrahiim

Dengan ini diumumkan bahwa pemenang Kuis-1 ‘Think Green, GoGreen’ adalah:


KakDidik BoroScouts Bojonegoro yang akan menyumbangkan 1 eksemplar buku ‘ThinkGreen, Go Green’ ke TBM SINOM  di Bojonegoro.
Pemilihan pemenang didasarkan kepada aksi nyata yang telahdilakukan serta besarnya pengaruh aksi tersebut.

Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada:
atas aksi yang telah dilakukan.

Ketiga peserta dapat tetapmenyumbangkan buku ‘Think Green, Go Green’ dengan mendapat potongan harga sebesar70%. (Silakan hubungi via inbox jika berminat).

Apresiasi tinggi juga diberikan kepada peserta lainnya.Semoga tetap konsisten dalam menjalankan aksi dan rencananya di masa yang akandatang.

Nantikan Kuis-2 ‘Think Green, Go Green’ berikutnya. Terimakasih.
Semoga langkah kecil kita mendapat berkah dari Yang Kuasa.Tetaplah berbagi dan menginspirasi sesama.

Wassalam,
Erni Misran


Wednesday, May 1, 2013

TBM SINOM Menerima Paket Buku Ke-2 dari Mbak Ririn R.A BKD Pemkab Tulungagung - Jawa Timur

Bojonegoro, 29 April 2013 tepatnya hari senin sekitar pukul 10.16 WIB aku mendapat SMS dari petugas Kantor Pos Padangan. Ini SMS-nya "Enek Paket Bos". Aku pun menjawab, "Oke Mas Bro". Pada saat itu, aku masih searching dan update blog di warnet. Petugas Pos pun masih berada di kantornya dan dia bilang nanti sekitar habis dzuhur baru tiba di Purwosari. Aku pun melanjutkan aktifitasku menjelajahi dunia maya. Banyak informasi yang kudapatkan, diantaranya mengenai informasi nge-Blog, pramuka, taman baca dan sebagainya.


Sebelumnya, aku telah mendapat konfirmasi dari Mbak Ririn bahwa paket bukunya akan tiba hari senin 27 April 2013. Ini merupakan Paket Buku Ke-2 Mbak Ririn R.A untuk TBM SINOM. Pasalnya, beliau sebelumnya juga sudah menyumbangkan Paket Buku pada tanggal 07 Desember 2012. Mbak Ririn R.A yang mempunyai nama pena "Nimas Kinanthi" ini adalah anggota JPIN "Jaringan Pena Ilma Nafia" dari Kota Kediri yang bekerja di BKD Pemkab Tulungagung  JL. A. Yani Timur No. 37 Tulungagung - Jawa Timur. Terima kasih banyak mbak, semoga buku yang diberikan memberikan manfaat yang luar biasa untuk sahabat TBM SINOM dan Mbak Ririn R.A senantiasa mendapatkan pahala dan rejeki dari Allah SWT. Amin...

 Adapun Paket Buku Ke-2 Mbak Ririn sebanyak 5 buku, yaitu : Antalogi Kisah-Kisah Inspiratif "Cinta Membaca" (Disertai tips dan kiat-kiatnya), Antalogi Kisah-Kisah Inspiratif "Cinta Membaca 2" (Disertai tips dan kiat-kiatnya), Aksi Hebat Si Pencuri Cerdik Asal Perancis, Sebungkus Nasi Segenggam Kebahagiaan, dan Never Where Kota Antah Berantah. Paket Buku Ke-2 Mbak Ririn R.A tersebut aku terima sekitar pukul 12.30 WIB dan diantar oleh pak pos.



Bagi yang ingin ikut "Donor Buku Untuk TBM SINOM" bisa dikirim donasinya ke alamat TBM SINOM di Desa Sedahkidul RT.004/RW.001 Kecamatan Purwosari Kabupaten Bojonegoro - Jawa Timur Kode Pos 62161. Muda Membaca Kelak Cerdas dan Bijaksana..... !!!



Tuesday, April 23, 2013

Membaca adalah Senjata Pamungkas untuk Melawan Kebodohan

Pramuka adalah sebuah gerakan. Yang salah satu percakapannya adalah harus gemar untuk membaca. Sebagai anggota pramuka, membaca sangat diperlukan sekali. Kenapa? Karena jika kita amati lebih dalam membaca itu adalah merupakan sebuah senjata pamungkas yang sangat ampuh sekali dalam melawan kebodohan. Tak jarang, banyak orang sukses itu dengan membaca. Semakin banyak membaca semakin mempunyai prospektif yang luas.



Membaca, menurut pengalaman saya proses menciptakan kreativitas-kreativitas dalam rasa dan logika yang kemudian diwujudkan dalam sebuah tindakan dalam kehidupan. Otak kita selalu berimajinasi, membayangkan apa yang kit abaca kemudian mengingatkannya dengan pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami sebelumnya. Kondisi ini akan menjadikan otak untuk selalu berpikir dan menganalisis, sehingga menggerakkan pikiran untuk berbuat sesuatu atau menciptakan sesuatu dalam imajinasi yang terekam oleh rasa dan logika.

Kebiasaan membaca akan selalu menjadi sahabat dimanapun dan kapanpun. Sahabat yang menyenangkan, menceriakan disaat merasa sepi, sahabat yang cerdas ketika kita butuh diskusi dan solusi. Sahabat paling berpengalaman yang bisa menunjukkan hal-hal baru. Sahabat yang paling bijak mengajarkan pada kita tentang kehidupan. Sahabat yang paling tekun mengajari kita supaya bisa pandai. Sahabat yang setia menemani kita berpetualang dan rekreasi dimanapun tempat yang kita inginkan. Sahabat yang bisa mengusir kejenuhan, kesepian dimanapun dan kapanpun. Dengan senjata tersebut (membaca) maka kita tidak akan mudah dibodohi oleh orang lain. Khoirun Jalisin fi zamani kitab (sebaik-baik teman duduk adalah buku). Selamat Hari Buku Sedunia 23 April 2013. Salam Literasi. Didik Jatmiko Ketua TBM SINOM

Saturday, April 20, 2013

Paket Donor Buku dari JPIN Grobogan Jawa Tengah

HP ku berdering dan ku lihat ada SMS dari Petugas Kantor Pos Padangan Bojonegoro. Beliau mengatakan bahwa da Paket Buku. Berhubung pada saat itu, aku tidak di rumah maka aku pun membuat janji kepada petugas pos untuk paket bukunya mohon diantar besok Jum'at, 19 April 2013. Akhirnya setelah Jum'atan, sekitar pukul 13.00 WIB paket buku tersebut diantar oleh Pak Pos. Kami bertemu di pinggir jalan tepatnya di dekat Wartel Kebonagung Padangan Bojonegoro.


Setelah itu aku pun bergegas pulang dan di rumah paket buku pun segera ku buka. Berdasarkan surat nomor : 022/JPIN/IV/2013 Tentang Donasi Buku. berikut daftar bukunya, langsung ke TKP :
1. 52 Tips dan Triks Dahsyat sebanyak 1 eks
2. 19 Hari Lancar Bahasa Inggris sebanyak 2 eks
3. Shalat Tahajud Memang sebanyak 2 eks
4. Dongeng Cinta Tikus Kantor sebanyak 1 eks
5. Gurita Pornografi Membelit Remaja sebanyak 2 eks
6. Para Pencuri Shalat sebanyak 1 eks
7. Saat Kuncup Cinta Mekar di Hati sebanyak 2 eks
8. Berlomba Memetik Pahala Kala Haid sebanyak 1 eks
9. Panduan Praktis PTK sebanyak 2 eks
10. Majalah Openmind sebanyak 2 eks





Adapun donasi buku ini dikirim oleh Bapak Badiatul Muchlisin Asti Ketua Umum JPIN Pusat. Dengan hadirnya buku dari JPIN ini memberikan semangat kepada TBM SINOM untuk mengembangkan dunia literasi khusunya di kampung sekitar TBM SINOM. Kami dari TBM SINOM mengucapkan terima kasih banyak atas donasi buku yang diberikan oleh Bapak Badiatul Muchlisin Asti Ketua Umum JPIN Pusat. Kami akan menjaga dan memanfaatkan donasi buku ini dengan baik. Semoga kerja sama ini selalu terjalin untuk pengembangan TBM SINOM kedepan. Salam literasi !!!!

Paket Donor Buku Untuk TBM SiNom Ke-13 dari Surabaya

Pagi itu sekitar pukul 07.30 WIB, tepatnya hari Selasa tanggal 16 April 2013 saya menerima SMS dari nomor baru yang berbunyi seperti ini : Kepada Yth. Pelanggan PT. Herona. Kami beritahukan bahwa kiriman paket sudah datang, bisa diambil di kantor dengan membawa fotocopy KTP 1 lembar. Terima kasih (PT. Herona Stasiun Bojonegoro). Langsung saja saya konfirmasi kepada nomor yang telah mengirimi saya SMS  melalui telepon, bahwa paket tersebut akan saya ambil hari Rabu, 17 April 2013.


Setiba saya di Kantor PT. Herona Stasiun Bojonegoro, saya segera menemui petugas dan menyerahkan 1 lembar fotocopy KTP dan menandatangani berkas penerimaan paket. Setelah administrasi selesai, paket pun kami terima. Setelah mengambil paket, saya menuju kantor Pusdiklatcab Kendalisada Gerakan Pramuka Bojonegoro. Disana aku dan sahabatku Kak Edy, beristirahat sejenak. Kurang lebih setengah jam berada di tempat tersebut, kami pu bergegas pulang.

Tiba di rumah, paket buku belum kami buka. Karena pada saat itu kami masih punya agenda untuk membina Pramuka di MTs Al-Huda Ngrejeng. Paket tersebut kami buka hari Kamis, 18 April 2013 dan berisi kurang lebih 57 Majalah, terdiri dari Majalah Islam dan Majalah Bisnis. Pantas berat banget, ujar sahabatku Kak Edy, isinya banyak banget. hehehehe......

Adapun paket Donor Buku Untuk TBM SINOM ke-13 ini kami terima dari Kak Anang Listy (Pandu Sedjati) dari Surabaya. Terima kasih kak, semoga paket buku ini dapat menambah semangat sahabat SINOM untuk mencintai Buku dan kakak selalu mendapatkan limpahan Nikmat, Taufik serta Hidayah dari Allah SWT. Amiin

Travelling

[Travelling][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done