Info Menarik
Loading...

Air Mata Menitik di Duka Sleman

Air Mata Menitik di Duka Sleman - Musibah adik di Sleman Jogjakarta mengingatkan saya. Kejadian itu persis pernah saya lakukan saat LT3 2002 Kwarcab Kota Surabaya di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan. Waktu itu saya menjabat Sekretaris Cabang Kota Surabaya.

Peserta, panitia, dan tim khusus penjelajahan selamat saat itu. Padahal peserta melewati dua kali sungai hujan dari Gunung Arjuna.

Air Mata Menitik di Duka Sleman
Mengapa selamat. Salah satunya adalah pengalaman menganalisis cuaca waktu itu. saya tahu hujan comulus akibat penguapan tinggi di area pegunungan yang sering terjadi lewat pukul 12 siang. Itu terjadi setelah musim hujan berjalan dua bulan, ya seperti Februari ini.

Saat itu, panitia saya sarankan melewati sungai hujan kali purwodadi di bawah pukul 12. Karena tanggung jawab tinggi, saya ikut berjalan di paling belakang sambil mendorong agar cepat berjalan sehingga melewati sungai sebelum pukul 12.

Ternyata, peserta melewati sungai selisih 10 menit dari kedatangan air bah. Saya berdiri persis di bibir sungai. Saya lihat air bah sangat ganas karena membawa batu besar dan kayu besar. Rombongan penjelajahan safari camp LT3 Surabaya selamat.

Tiba-tiba, ada kabar dari panitia yang bertugas tentang ada air bah lewat telepon. Saya katakan, "terlambat, air sudah lewat 10 menit yang lalu," Panitia pun yang berjaga 3 km di atas bisa terlena.

Jadi, yang perlu dipahami adalah kemampuan mengamati cuaca dan alam sekitar. Kemampuan orientering harus dipertajam. Kemampuan itu harus diujicoba berkali-kali. Misalnya, kemampuan mendeteksi ketinggian air sungai jika banjir dapat dilakukan dengan melihat sisa sampah di pinggir sungai. Kerentanan tanah dapat diamati melalui tanda pohon kecil yang tumbang atau retak tanah. Begitulah seterusnya.

Jadi, KMD dan KML yang mempersiapkan pembina di alam terbuka, perlu diperbanyak pengalaman orientering. Sampai mereka tahu jalur penjelajahan yang aman dan selamat.

Di samping itu, pembina yang sudah bersertifikat KMD atau KML perlu terus diujicoba menguasai alam terbuka bersama para pelatih setempat. Tradisi ruangan perlu digeser ke tradisi learning by doing. Kegiatan kepramukaan lebih berkuasa ketika di alam terbuka. Mengapa begitu? Roh kepramukaan adalah alam terbuka dan belajar sambil melakukan. Kekuatan manajemen risiko perlu diaplikasikan nyata.

Tulisan ini mengiringi rasa duka mendalam terhadap adik-adik yang bermusibah di Sleman Jogjakarta. Risiko akan datang tiba-riba. Namun, risiko dapat ditengarai sebab-sebabnya.

Penulis : Kak Prof Suyatno, Kepala Pusdiklatnas Gerakan Pramuka

Share with your friends

Give us your opinion

Didik Jatmiko merupakan Blogger dan YouTuber dari Bojonegoro yang mencoba berkreasi, silahkan berkomentar sesuai postingan dan dilarang berkomentar menyinggung SARA dan SPAM.

Terima kasih telah berkunjung dan salam damai dari Bojonegoro.

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done